Home Profil Kurikulum Berita Kegiatan Video Foto Galeri Zona Kreatif Artikel Pendaftaran Kontak
  • Jadikan pengalaman belajarmu lebih berkesan & bermakna
  • Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya merupakan Sekolah Model di Indonesia
  • Sekolah Menyenangkan Sekolah Pilihan
         
   
DetailArticle
Share |
Membangun Empati Anak Sejak Dini di Sekolah Kreatif
Anak yang sholeh, cerdas, tangkas, sopan, berempati, dan kreatif tentu menjadi harapan setiap orang tua. Anak seperti itu tidak tercipta dengan sendirinya, melainkan ada proses yang harus dilaluinya. Sebagaimana hadits yang berbunyi : "Setiap anak yang dilahirkan berdasarkan fitrah, kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan dia yahudi atau nasrani atau majusi." [1]. Ada juga yang mengatakan bahwa anak itu seperti kertas yang putih bersih, orang tuanya-lah yang akan menulis dan mewarnai kertas itu. Jadi setiap anak terlahir suci. Kesucian itu akan terus terjaga jika orang tua dan lingkungan menjaganya. Dan sebaliknya, kesucian itu akan ternodai jika orang tua dan lingkungan tidak menjaganya, bahkan mengotorinya.
Anak yang sholeh, cerdas, tangkas, sopan, berempati, dan kreatif, dengan izin Allah SWT akan tercipta melalui proses yang dilakukan orang tua di rumah, guru di sekolah, juga lingkungan yang sangat berpengaruh. Untuk membuat anak berempati di rumah mungkin tidak terlalu sulit, sebab jumlah orang yang ditemui anak lebih sedikit dan cenderung homogen. Sedangkan di sekolah, anak akan menjumpai jumlah orang yang lebih banyak dan sangat heterogen (beragam). Di sekolah pula anak akan menjumpai orang dengan berbagai sifat, karakter, dan berbagai tingkat kemampuan.
Beberapa tahun terakhir ini semakin sering kita dengar istilah ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), autis, hiperaktif, special needs, ADD, ADHD, dll. Itu adalah beberapa istilah yang mewakili keadaan pada anak yang memiliki kebutuhan khusus atau tidak seperti keadaan kebanyakan anak. ABK atau special needs diantaranya yang memiliki ciri autis.

Autistic Spectrum Disorder
Seseorang baru dapat dikatakan sebagai Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau gangguan autis, bila ia memiliki sebagian dari uraian gejala-gejala berikut ini :
1. Gangguan komunikasi --- cenderung mengalami hambatan mengekspresikan diri, sulit bertanya jawab sesuai konteks, sering membeo ucapan orang lain, atau bahkan mengalami hambatan bicara secara total dan berbagai bentuk masalah gangguan komunikasi lainnya.
2. Gangguan perilaku --- adanya perilaku stereotip/khas seperti mengepakkan tangan, melompat-lompat, berjalan jinjit, senang pada benda yang berputar atau memutar-mutarkan benda, mengetuk-ngetukkan benda ke benda lain, obsesi pada bagian benda atau benda yang tidak wajar dan berbagai bentuk masalah perilaku lain yang tidak wajar bagi anak seusianya. Variasi perilaku yang tertampil sangatlah beragam, sehingga tidak mengkin dijabarkan satu per satu.
3.Gangguan interaksi --- secara umum terdapat keengganan untuk berinteraksi secara aktif dengan orang lain, sering terganggu dengan keberadaaan orang lain di sekitarnya, tidak dapat bermain bersama anak lain, lebih senang menyendiri [2].

Sekolah Inklusi
Sekolah inklusi. Ya, sekolah inklusi sering disebut bergandengan dengan ABK. Apa itu sekolah inklusi? Sekolah inklusi adalah sekolah umum yang menerima siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus. Beberapa tahun terakhir semakin banyak sekolah yang menyatakan bahwa sekolahnya adalah sekolah inklusi, karena di masyarakat juga semakin banyak permintaan sekolah umum yang dapat menerima putra putrinya yang berkebutuhan khusus.
Filosofi yang mendasari lahirnya sekolah inklusi adalah keyakinan bahwa setiap anak (termasuk anak dengan kebutuhan khusus, baik karena gangguan perkembangan fisik maupun mental) berhak untuk memperoleh pendidikan seperti layaknya anak-anak “normal” lainnya dalam lingkungan yang sama. Secara lebih luas, ini bisa diartikan bahwa semua anak dengan keadaan bagaimanapun selayaknya dididik bersama-sama dalam sebuah komunitas.
Bila selama ini kita mengenal adanya sekolah khusus untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus tersebut, misalnya Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk para penyandang tunanetra, tunarungu, atau asrama-asrama yang menampung berbagai anak yang memiliki kebutuhan khusus, baik fisik maupun mental, maka sekolah inklusi justru menyatukan anak-anak tersebut dalam sebuah komunitas bersama, sebagai salah satu alternatif pilihan bentuk pendidikan yang berlaku di Amerika Serikat yaitu Social Skills Development and Mixed Disability Classes (Siegel, 1996).

Konsep Sekolah Kreatif
Di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya siswa tidak hanya menjumpai keberagaman sifat, karakter, dan berbagai tingkat kemampuan, tetapi mereka juga akan menemui teman yang memiliki kebutuhan khusus (ABK) seperti yang menderita autis dan hiperaktif. Sejak tahun 2002, Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya menerima siswa reguler dan siswa dengan kebutuhan khusus sebagai salah satu wujud memberikan hak anak untuk mendapat pendidikan yang sama dan menciptakan lingkungan yang bisa menerima ABK untuk belajar bersama anak reguler. Jadi di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya ini antara siswa reguler dan siswa dengan kebutuhan khusus tidak dipisahkan.
Dengan konsep baru ini, Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya berharap keberadaan ABK di sekolah dapat memberikan nilai tambah bagi siswa reguler, ada rasa memiliki, menumbuhkan jiwa sosialisasi anak sehingga dapat mengembangkan kemampuan empati terhadap ABK dan lebih responsif terhadap keadaan lingkungannya. Sedangkan bagi ABK diharapkan bisa lebih percaya diri dan bisa mengembangkan potensi yang dimilikinya. Melalui konsep sekolah seperti ini, memungkinkan anak belajar hidup di tengah masyarakat yang beraneka ragam (heterogen).

Mind-blindness
Pada dasarnya tiap anak memiliki kemampuan dalam membuat kesimpulan/melakukan penalaran tentang apa yang dipikirkan, dirasakan, diinginkan, dilihat, diyakini, dan lain-lain, yang dikenal dengan istilah mind-reading. Kemampuan mind-reading tumbuh secara spontan dan alamiah pada masa kanak-kanak. Lain halnya dengan anak yang memiliki gangguan autis. Anak autis dikatakan mengalami mind-blindness. Mind-blindness adalah ketidakmampuan seseorang dalam melakukan penalaran mental stales, yaitu pemikiran, keyakinan, keinginan, niat, dan lain-lain, baik itu pada diri sendiri maupun orang lain [3]. Hal ini menyebabkan anak autis cenderung tidak sensitif/kurang empati pada perasaan orang lain, tidak mampu membayangkan apa yang diketahui atau dipikirkan oleh orang lain, sulit memprediksi tingkah laku orang lain, dan lain-lain.
Berdasarkan observasi, sebagian besar siswa tahu bahwa temannya ada yang memiliki kebutuhan khusus. Pada awalnya mereka merasa terganggu dengan teman yang memiliki kebiasaan “aneh”, kemudian mereka belajar untuk mengenal dan memahami temannya tersebut dengan bantuan penjelasan secara verbal dan non-verbal dari ustadz ustadzah dan orang tua (yang sebelumnya telah diberi penjelasan tentang konsep Sekolah Kreatif). Seiring berjalannya waktu, mereka tidak lagi merasa terganggu dengan keberadaan temannya yang berkebutuhan khusus di kelas. Bahkan mereka sayang dan sangat perhatian terhadap temannya yang ABK.

Empati
Respon sosial yang positif berupa empati mereka tunjukkan ketika ABK marah atau menangis, mereka berusaha agar ABK itu diam dan mencoba menasihati, waktu istirahat ABK mereka ajak bermain juga, ketika jatuh ditolong, ketika datang waktu sholat mereka ajak sholat. Dan satu hal lagi yang terpenting, ternyata perlakuan sayang mereka kepada ABK sebagian besar muncul dari diri mereka sendiri, bukan paksaan guru atau orang tua.
Empati adalah suatu proses ketika seseorang merasakan perasaan orang lain dan menangkap arti perasaan itu, kemudian mengkomunikasikannya dengan kepekaan sedemikian rupa hingga menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh mengerti perasaan orang lain itu. (Bullmer).
Ada beberapa cerita yang menggambarkan besarnya empati siswa terhadap ABK. Dinda sejak kelas 1 mengenal Z (ABK). Kesan pertama Dinda mengenal Z adalah merasa aneh, karena Z kurang bisa berkomunikasi dengan teman-temannya dan sering memukul teman tanpa sebab yang kita mengerti. Meski begitu Dinda tidak menjauhinya, tetapi justru ingin lebih mengenal. Setelah beberapa bulan mengenal Z, menurut Dinda ternyata Z anak yang lucu. Sehingga Dinda dan teman-temannya tidak enggan bermain bersama Z dan tidak merasa terganggu dengan keberadaannya di kelas. Kelas 3 mereka tidak sekelas lagi. Namun tiap kali ketika sholat dhuhur berjamaah di masjid, Z selalu mencari Dinda. Z mendatangi Dinda yang sedang sholat kemudian memukulnya. Mungkin pukulan itu ungkapan sayang Z kepada Dinda. Tetapi Dinda tidak pernah marah, tetapi mencegah Z dengan penuh kasih sayang, dibantu temannya yang lain.
Berbeda lagi dengan Bagas dan Nauval yang baru di kelas 3 sekelas dengan V (ABK). V sering sekali bicara atau bersenandung sendiri sambil menggambar. Ketika waktu istirahat, V mau bermain dengan temannya. Setiap permainan V disukai oleh Nauval dan Bagas, sehingga mereka tidak bermasalah ketika bermain dengan V, meskipun V sering kali menangis jika ada yang tidak sesuai dengan hatinya. V sering berkata “pusing” ketika diberi soal latihan oleh ustadz/ustadzah, kemudian memukul-mukul kepalanya. Jika Bagas melihat V seperti itu, Bagas mendekati untuk menenangkan dan dengan kasih sayang membantu V menyelesaikan tugas.
N (ABK) ketika kelas 1 sering sekali memukul temannya. Hal itu dilakukan secara refleks (spontan, tanpa disengaja). Setelah memukul, N minta maaf dan bertanya pada teman yang dipukulnya : “Sakit ya?” dengan ekspresi orang yang perhatian, kemudian mengusap-usap bagian tubuh yang telah dipukulnya dan didoakan agar sembuh. Mungkin kita akan mengatakan lucu atau aneh setelah melihat kelakuan N. Tetapi kita akan tersenyum melihat tingkah lakunya itu, sebab itu dilakukan karena dirinya tidak bisa mengontrol motorik kasarnya dan benar-benar tidak disengaja. Pada awalnya teman-teman N kurang suka dengan keberadaannya di kelas karena sering mengganggu atau memukul. Ustadzah di kelas memberikan pemahaman kepada teman-teman N. Akhirnya lambat laun mereka paham keadaan N, mau mengajak bermain, makan bersama, mengingatkan ketika N hendak memukul, dan lain-lain.
A (ABK), yang belum bisa mengkomunikasikan maksudnya dengan baik, juga diperhatikan dan disayang oleh teman-temannya. Ketika berwudlu A dibimbing teman-temannya, diajak ke masjid, dan didampingi ketika sholat berjamaah, meskipun terkadang A tidak mau berdiri untuk sholat dan marah-marah atau berteriak, namun teman-temannya tetap dengan sabar setiap hari menemani dan membimbingnya.

Keuntungan
Dari hasil observasi tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa yang belajar di sekolah inklusi (Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya) akan memiliki empati yang berkembang sejak dini. Adanya teman yang memiliki kebutuhan khusus membuat anak belajar bahwa ternyata ada keadaan teman yang “berbeda” yang perlu diperhatikan dan diperlakukan berbeda. Model sekolah inklusi ternyata memberi dampak yang positif, baik bagi siswa reguler maupun siswa berkebutuhan khusus. Kekhawatiran bahwa siswa reguler akan “dirugikan” sama sekali tidak terbukti. Justru siswa reguler mendapat keuntungan dari sistem sekolah inklusi, karena mereka menjadi anak yang lebih berempati, lebih bijak, serta memiliki pengetahuan/wawasan yang lebih luas tentang kehidupan.
Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya sebagai sekolah inklusi telah berhasil menciptakan lingkungan yang unik, sekaligus mampu merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak didik menuju hal-hal yang baik. Di sini mereka tidak semata mengejar kemampuan akademik, tetapi lebih dari itu, mereka juga belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya. Jadi sekolah sangat berperan untuk memungkinkan anak belajar hidup di tengah masyarakat yang beraneka ragam.

Author : Inayah, S.E. Reference : [1] Hadits Riwayat Buhkori
[2] Siegel, Autistic Spectrum Disorder,
Journal of Autism and Development Disorder, Spinger Netherlands Vol. 29, Number 6 December, 1999.
[3] Baron-Cohen, Hadwin, & Howlin, Mind–Reading, Psychiatric Services, American Psichiatric Publishing, 1999.

    OtherArticles

Serunya Belajar Tentang Proses Pembuatan Sirup dan Cara Mengirim Surat

Serunya Belajar Tentang Proses Pembuatan Sirup dan Cara Mengirim Surat

Halal Bi Halal Bersama Ust.Wijayanto

Display Class Media Pembelajaran Asyik

Tugas Akhir Rangsang Siswa Menjadi Kreatif, Inovatif dan Berkarakter Positif

Because, THE SCHOOL IS NOT A FACTORY!

MENDIDIK ANAK BERTANGGUNG JAWAB

LINGKUNGAN SEBAGAI SIMBOL DALAM PEMBELAJARAN

PERAN GURU DALAM MEMBANGUN KEJUJURAN AKADEMIK IDEALISME SANG GURU UNTUK PENDIDIKAN YANG LEBIH BAIK

TEACHING ENGLISH USING HIP-HOP IN SD KREATIF MUHAMMADIYAH 16 SURABAYA

Membangun Empati Anak Sejak Dini di Sekolah Kreatif

SEKOLAH INKLUSI : SOLUSI PENDIDIKAN UNTUK SEMUA

Kata Kunci itu Bernama Kreativitas

Sekilas Tentang Pembelajaran Tematik

   
         
 
PENDAFTARAN
"Sekolah Kreatif" SD Muhammadiyah 16 - Jl. Barata Jaya I/11 Surabaya
Telp. (031) 5045 109, 7216 0806
c.p : Heru Tjahjono (08123 207 580)
Tim Inovasi Pengembangan Sekolah (TIPS)
  Website : www.sekolahkreatif.com
E-mail : kontak@sekolahkreatif.com
 
 
Copyright © 2012 - SEKOLAH KREATIF - SD Muhammadiyah 16 Surabaya. All Rights Reserved.