Kincir Air dan Cikoto (cikrak otomatis) :  Karya Tugas Akhir Kelas 5

Kincir Air dan Cikoto (cikrak otomatis) : Karya Tugas Akhir Kelas 5

ProdukTugas Akhir Cikoto (Cikrak Otomatis)

Kegiatan tugas akhir siswa kelas 5 tahun ini menjadi salah satu pengalaman pendampingan yang paling berkesan bagi saya sebagai guru. Dalam proses ini, saya mendampingi dua kelompok Saintis (Sains dan teknologi) dengan karya yang berbeda namun sama-sama menantang dan penuh makna, yaitu kelompok kincir air dan kelompok CIKOTO (Cikrak Otomatis). Kedua kelompok ini menunjukkan bahwa anak-anak tidak hanya mampu belajar teori, tetapi juga bisa mengubah ide sederhana menjadi karya nyata melalui proses yang panjang, penuh diskusi, dan kerja sama.

Kelompok kincir air sejak awal mereka terlihat antusias membicarakan bagaimana air yang bergerak bisa digunakan untuk menyalakan lampu. Anak-anak mulai dari menggambar rancangan sederhana, menentukan bahan yang mudah ditemukan, hingga mencoba merakit bagian demi bagian. Dalam prosesnya, mereka belajar bahwa tidak semua percobaan langsung berhasil. Kincir yang pertama kali dibuat belum bisa berputar dengan baik karena sudut bilah yang kurang tepat. Namun, dari situlah mereka belajar untuk mengamati, mengevaluasi, lalu memperbaiki desainnya. Saya melihat sendiri bagaimana mereka berdiskusi, saling memberi saran, dan belajar menghargai pendapat teman. Saat akhirnya kincir air itu bisa berputar dengan lancar dan bisa menyalakan lampu led sederhana, wajah mereka penuh rasa bangga, bukan hanya karena hasilnya, tetapi karena perjuangan di baliknya.

Sementara itu, kelompok CIKOTO atau Cikrak Otomatis mengangkat ide tentang alat yang bisa mempermudah aktivitas sehari-hari yaitu perpaduan cikrak dengan sapu. Mereka ingin membuat alat sederhana yang bekerja secara otomatis dan praktis digunakan. Proses pengerjaannya tidak kalah menantang. Anak-anak harus memahami bagaimana rangkaian sederhana bisa membuat alat bergerak sesuai yang diharapkan. Beberapa kali mereka harus membongkar dan memasang kembali bagian alat karena tidak berfungsi dengan baik. Namun justru di situlah nilai pembelajarannya terasa. Mereka belajar bersabar, teliti, dan tidak mudah menyerah ketika menemui kesulitan.

Sebagai pendamping, peran saya bukan untuk memberi jawaban instan, tetapi untuk mengarahkan mereka menemukan solusi sendiri. Saya sering mengajukan pertanyaan sederhana seperti, “Menurut kalian, bagian mana yang perlu diperbaiki?” atau “Apa yang bisa diganti Ketika kincir belum bisa bergerak lancar?” Dari situ, anak-anak belajar berpikir kritis dan berani mencoba. Saya merasa bangga melihat perubahan sikap mereka yang awalnya ragu, menjadi lebih percaya diri dalam menyampaikan ide dan mengambil keputusan kelompok.

Kegiatan tugas akhir ini bukan sekadar menghasilkan produk kincir air dan CIKOTO, tetapi juga menumbuhkan karakter penting pada siswa: kerja sama, tanggung jawab, kreativitas, dan ketekunan. Mereka belajar bahwa sebuah karya yang baik lahir dari proses, bukan dari hasil instan. Bagi saya, mendampingi dua kelompok ini adalah pengalaman yang sangat berharga, karena saya bisa menyaksikan langsung bagaimana pembelajaran bermakna terjadi saat anak-anak belajar dengan hati, tangan, dan pikirannya sekaligus. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari pembelajaran bermakna di sekolah, sehingga siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga terampil, mandiri, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.

Oleh : Resti Khusfathul K, S.Si