Suasana aula lantai 3 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Baratajaya Surabaya, Kamis (26/2/2026), dipenuhi gelak tawa dan wajah antusias siswa kelas III. Kegiatan Baitul Arqam tahun ini berlangsung semarak dengan konsep pembelajaran edu-tainment yang memadukan materi akidah, permainan, musik, film edukatif, hingga diskusi kelompok yang mendalam.
Sejak pukul 11.00 WIB, seluruh siswa telah memadati hall. Materi utama tentang keesaan Allah dan kekuasaan-Nya menciptakan alam semesta disampaikan oleh Eko Wahyudi, S.Pd., melalui metode dongeng interaktif. Ia menghadirkan boneka tangan bernama “Toby” sebagai sahabat kecil siswa. Toby tampil penuh rasa ingin tahu, memancing pertanyaan sederhana namun mendasar seperti siapa pencipta langit dan bumi. Anak-anak pun berebut menjawab dengan penuh semangat.
Pendekatan ini selaras dengan teori konstruktivisme dari Jean Piaget yang menekankan bahwa anak membangun pemahamannya melalui pengalaman aktif. Saat siswa terlibat dalam dialog dan permainan, mereka tidak sekadar menerima materi, tetapi mengonstruksi makna tentang tauhid melalui proses berpikir mereka sendiri.
Irama musik yang dipandu Dwi Cahyo, S.Pd., semakin menghidupkan suasana. Lagu bersaut tentang penciptaan alam dinyanyikan bersama dengan gerakan sederhana. Metode ini mencerminkan teori multiple intelligences dari Howard Gardner yang menyebutkan bahwa kecerdasan anak beragam, mulai dari linguistik, musikal, hingga kinestetik. Dengan pendekatan multisensori, nilai akidah lebih mudah tertanam dalam diri siswa.
Kegiatan berlanjut setelah salat Zuhur dengan sesi menonton film edukatif bertema kebesaran Allah dan pentingnya bersyukur. Tayangan tersebut menjadi jembatan pembelajaran yang realistis dan kontekstual. Siswa diajak melihat contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari sehingga materi akidah tidak berhenti pada teori, tetapi hadir dalam realitas.
Usai menonton, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok dipimpin seorang leader yang telah ditunjuk sebelumnya. Diskusi berlangsung aktif, membahas pesan moral film serta kaitannya dengan kehidupan mereka sebagai pelajar muslim.
Model ini sejalan dengan teori pembelajaran sosial dari Lev Vygotsky yang menegaskan pentingnya interaksi sosial dalam membangun pemahaman. Melalui diskusi, siswa belajar menyampaikan pendapat, mendengarkan teman, serta menyimpulkan gagasan bersama.
Menariknya, setiap perwakilan kelompok maju mempresentasikan hasil diskusi di depan teman-temannya. Kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi siswa pun terasah. Proses ini mencerminkan pembelajaran abad ke-21 yang menekankan kolaborasi, komunikasi, berpikir kritis, dan kreativitas.
Dalam sambutannya, Wakil Kepala Sekolah \Suyono, S.Si., menyampaikan bahwa Baitul Arqam merupakan sarana berlatih bagi siswa dalam menuntut ilmu agama dengan kemasan menarik dan menyenangkan.
“Belajar agama tidak harus selalu serius dan kaku, tetapi bisa dikemas kreatif tanpa mengurangi substansi,” tegas Suyono.
Ia juga memotivasi siswa kelas III untuk melaksanakan puasa Ramadan dengan penuh semangat. Menurutnya, Ramadan harus menjadi momentum memperkuat iman, melatih kesabaran, serta meningkatkan ibadah.
Menjelang sore hari, kebersamaan semakin terasa saat seluruh siswa mengikuti buka puasa bersama di halaman sekolah.
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan tercipta ketika siswa duduk berkelompok bersama leader masing-masing. Kegiatan ini bukan sekadar berbagi hidangan, tetapi juga menanamkan nilai ukhuwah, kepemimpinan, dan kebersamaan.
Secara keseluruhan, Baitul Arqam kelas III ini menghadirkan pembelajaran yang realistis dan kontekstual. Materi akidah tidak hanya disampaikan secara teoretis, tetapi dialami melalui cerita, musik, visualisasi film, diskusi, hingga praktik kebersamaan dalam buka puasa.
Suyono menjelaskan, Baitul Arqam di Sekolah Kreatif Baratajaya membuktikan bahwa pendidikan agama dapat dirancang inovatif, partisipatif, dan kontekstual.
Melalui perpaduan edutainment, diskusi kelompok, presentasi, dan buka puasa bersama, siswa tidak hanya memahami konsep tauhid, tetapi juga merasakannya dalam pengalaman nyata.
“Inilah pembelajaran yang menumbuhkan iman sekaligus membentuk karakter generasi muslim sejak dini,” ujarnya. (#)
Jurnalis Ahmad Mahmudi
