Dari Museum, Siswa Belajar Menghargai Sepiring Nasi
Sekolahkreatif.com – Sepiring nasi yang dikonsumsi setiap hari menyimpan proses panjang di balik penyajiannya. Mulai dari menanam padi, merawat tanaman, hingga memanen gabah, semua membutuhkan pengetahuan dan kerja keras petani. Pemahaman inilah yang dikenalkan kepada siswa kelas II Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya saat mengunjungi Museum Pertanian Ekologis Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman, Mojokerto, Rabu (28/10/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari kegiatan outbound learning yang mengajak siswa mengenal pertanian melalui koleksi museum dan penjelasan pemandu. Didampingi Wakil Kepala Sekolah Suyono, S.Si., serta guru kelas II Nur Faridah, S.Pd., dan Mohammad Fauzi, S.Pd., para siswa mempelajari perjalanan pertanian Indonesia dari masa ke masa.
Di dalam museum, siswa menyimak penjelasan mengenai perkembangan pertanian sejak era perkebunan kolonial, masa pembangunan, hingga pertanian modern yang memanfaatkan teknologi digital. Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah pesawat nirawak atau drone yang digunakan dalam berbagai kegiatan pertanian.
Perbandingan tersebut memberikan gambaran kepada siswa bahwa pertanian terus mengalami perubahan. Jika dahulu petani banyak mengandalkan peralatan manual, kini teknologi turut membantu proses pengelolaan lahan dan tanaman.
Wakil Kepala Sekolah Suyono, S.Si., mengatakan pembelajaran langsung di museum memberikan pengalaman berbeda dibandingkan kegiatan belajar di kelas.
“Anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan dari penjelasan guru di kelas, tetapi juga bisa melihat langsung koleksi dan informasi tentang perkembangan pertanian. Dengan begitu, mereka memiliki gambaran yang lebih nyata tentang materi yang dipelajari,” ujarnya.
Menurut Suyono, kunjungan edukatif seperti ini juga membuka kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan rasa ingin tahu.
“Harapannya, anak-anak semakin tertarik untuk belajar, berani bertanya, dan memahami bahwa banyak hal di sekitar mereka yang bisa menjadi sumber pengetahuan,” tambahnya.
Selain mengenal sejarah, siswa diperkenalkan dengan beragam varietas padi lokal beserta karakteristiknya. Pengetahuan ini membantu mereka memahami kekayaan pertanian Indonesia sekaligus mengenali sumber pangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Guru kelas II Nur Faridah, S.Pd., menilai pengenalan tersebut penting untuk menumbuhkan sikap menghargai makanan.
“Anak-anak bisa mengetahui bahwa beras yang mereka makan setiap hari berasal dari proses pertanian yang membutuhkan kerja keras. Mereka juga belajar mengenal berbagai jenis padi yang memiliki karakteristik berbeda,” katanya.
Ia berharap pengalaman itu membuat siswa lebih menghargai usaha petani.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin anak-anak belajar menghargai usaha petani. Mereka perlu memahami bahwa untuk menghasilkan makanan, ada proses panjang yang harus dilalui,” ungkapnya.
Sementara itu, Mohammad Fauzi, S.Pd., menyoroti pengalaman siswa saat melihat berbagai peralatan pertanian tradisional yang tersimpan di museum.
“Anak-anak bisa membandingkan peralatan yang digunakan petani zaman dahulu dengan teknologi pertanian sekarang. Dari situ, mereka belajar bahwa perkembangan teknologi membantu manusia bekerja dengan cara yang berbeda,” jelasnya.
Fauzi menambahkan, melihat benda secara langsung dapat membuat pembelajaran lebih mudah dipahami.
“Ketika melihat langsung koleksi museum, anak-anak mempunyai pengalaman yang bisa mereka ceritakan kembali. Ini menjadi bagian penting dari proses belajar yang menyenangkan,” tuturnya.
Melalui kunjungan ini, Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Siswa tidak hanya mengenal sejarah dan teknologi pertanian, tetapi juga diajak memahami pentingnya menghargai pangan, menghormati kerja petani, serta menjaga lingkungan sebagai penopang keberlanjutan pertanian.
Tim Humas
