Dari Tanah Liat, Siswa Sekolah Kreatif Belajar Sejarah dan Keterampilan
Sekolahkreatif.com — Tanah liat yang semula hanya berupa gumpalan di tangan berubah menjadi media belajar bagi siswa kelas 2 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya. Melalui praktik membuat batu bata di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman, Trawas, Mojokerto, Rabu–Kamis (28–29/10/2026), siswa mengenal proses pembuatan bahan bangunan sekaligus menelusuri jejak keterampilan tradisional Nusantara.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari outbound edukatif yang mengajak siswa belajar melalui pengalaman langsung. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan fasilitator, tetapi juga menyentuh bahan, mengenali proses pengolahan, dan mencoba mencetak batu bata secara bergantian.
Wakil Kepala Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Suyono, menjelaskan bahwa pembelajaran di luar kelas memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengalaman yang lebih konkret.
“Pembelajaran di alam terbuka juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengamati lingkungan, mengenal keterampilan masyarakat, serta memperoleh pengalaman baru yang tidak selalu bisa didapatkan melalui pembelajaran di kelas,” ungkapnya.
Menurut Suyono, pengalaman semacam ini membuka ruang bagi siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di sekolah dengan objek yang mereka temui secara langsung.
Dalam praktik pembuatan batu bata, siswa diperkenalkan dengan bahan-bahan yang digunakan, antara lain tanah liat, sekam padi, dan air. Setelah mendapatkan penjelasan mengenai proses pembuatannya, mereka mencoba mencampur bahan dan memasukkannya ke dalam cetakan.
Aktivitas tersebut menghadirkan pengalaman belajar yang melibatkan pengamatan dan keterampilan motorik. Siswa dapat melihat bagaimana bahan sederhana diolah melalui tahapan tertentu hingga membentuk benda yang memiliki fungsi dalam kehidupan sehari-hari.
Mohammad Fauzi yang turut mendampingi kegiatan outbound menyampaikan bahwa praktik langsung memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.
“Kegiatan praktik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran, mulai dari mengenal bahan hingga memahami cara kerja pembuatan batu bata,” ujarnya.
Bagi siswa kelas 2, proses mencetak batu bata menjadi pengalaman yang berbeda dari kegiatan belajar di ruang kelas. Mereka berkesempatan mencoba sendiri tahapan yang sebelumnya hanya dijelaskan oleh fasilitator.
Mengenal Warisan Keterampilan Nusantara
Selain belajar membuat batu bata, siswa memperoleh penjelasan mengenai sejarah penggunaannya dalam pembangunan pada masa lampau, termasuk pada era Kerajaan Majapahit. Materi ini memperkenalkan mereka pada keterampilan manusia dalam mengolah bahan alam menjadi material bangunan.
Guru kelas 2, Nur Farida, melihat pembelajaran langsung sebagai kesempatan bagi siswa untuk mengenal pengetahuan melalui pengalaman nyata.
Kegiatan di luar kelas, menurutnya, dapat membantu anak menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Dengan mencoba sendiri, siswa memiliki kesempatan untuk mengamati proses, memahami tahapan pekerjaan, dan mengenali fungsi benda yang ada di sekitar mereka.
Pengalaman membuat batu bata juga mengajak siswa menghargai pekerjaan para perajin. Di balik sebuah batu bata yang biasa dijumpai pada bangunan, terdapat proses pengolahan bahan dan keterampilan yang perlu dipelajari.
Pembelajaran tersebut sekaligus memperkenalkan hubungan antara manusia dan lingkungan. Tanah liat serta sekam padi yang digunakan dalam proses pembuatan batu bata menjadi contoh bahan yang dapat diolah menjadi produk bermanfaat.
Belajar Tidak Hanya di Ruang Kelas
Outbound di PPLH Seloliman menunjukkan bahwa pembelajaran dapat berlangsung melalui beragam pengalaman. Sejarah dikenalkan melalui cerita tentang penggunaan batu bata pada masa lalu, keterampilan dipelajari melalui praktik, sedangkan pengenalan lingkungan dilakukan dengan mengamati bahan-bahan yang tersedia di sekitar.
Bagi siswa kelas 2 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya, kegiatan ini memberikan kesempatan untuk belajar sambil mencoba. Mereka tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga mengalami sendiri sebagian proses yang dipelajari.
Melalui pendekatan tersebut, outbound tidak sekadar menjadi kegiatan rekreasi di alam terbuka. Kegiatan ini menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan rasa ingin tahu, melatih keterampilan tangan, dan memahami bahwa pengetahuan dapat ditemukan dalam berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari. (Tim Humas)
