Sekolah Kreatif Baratajaya Kembangkan Pembelajaran Berorientasi Internasional
Sekolahkreatif.com — Belajar tidak selalu berarti duduk, mendengarkan guru, lalu mengerjakan soal. Di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya, siswa didorong untuk bertanya, menemukan, mencoba, memimpin, dan merefleksikan proses belajarnya.
Pola tersebut membuat pendekatan pembelajaran Sekolah Kreatif Baratajaya memiliki sejumlah karakter yang sejalan dengan pembelajaran berorientasi internasional seperti Cambridge, terutama dalam pengembangan kemampuan berpikir kritis, kemandirian, komunikasi, kreativitas, dan pemecahan masalah.
Namun, sekolah tetap mempertahankan identitas pendidikan Islam dan nilai-nilai Muhammadiyah.
Heru Tjahyono, Ketua Tim Inovasi Pengembangan Sekolah (TIPS), mengatakan pembelajaran di Sekolah Kreatif memang tidak dirancang sekadar untuk mengejar nilai akademik.
“Proses pembelajaran kita desain sesuai dengan karakteristik dan gaya belajar siswa serta pembelajaran berbasis inkuiri,” ujarnya.
Melalui pembelajaran berbasis inkuiri, siswa didorong untuk terlibat langsung dalam proses menemukan pengetahuan.
“Dengan demikian, siswa belajar sambil bermain karena mengikuti keunikan anak tersebut,” kata Heru.
Pendekatan itu diperkuat dengan pembelajaran kontekstual. Siswa tidak hanya menerima materi dalam bentuk teori, tetapi diajak berhadapan dengan pengalaman nyata.
“Kami menghadirkan pembelajaran yang nyata dan siswa terlibat aktif dalam proses belajar,” jelasnya.
Model tersebut juga terlihat dari keberadaan Life Skill dan Entrepreneurship di setiap jenjang.
“Kami punya Life Skill dan Entrepreneurship di setiap jenjang kelas untuk mempertajam kemampuan siswa,” ujar Heru.
Menurutnya, keterampilan tersebut penting agar siswa tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi mampu menggunakannya dalam kehidupan.
Hal lain yang menjadi perhatian adalah kemampuan siswa merefleksikan proses belajarnya. Sekolah Kreatif mengembangkan Student Led Conference sebagai ruang bagi siswa untuk menyampaikan capaian dan target belajarnya.
“Student Led Conference menjadi bagian dari media untuk mengekspresikan capaian pembelajaran dan target yang telah berhasil dicapai siswa,” katanya.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa siswa ditempatkan sebagai pelaku utama dalam proses pendidikan.
Wakil Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Ida Afifah, S.Pd., mengatakan sekolah bahkan berupaya memahami karakter siswa sebelum menentukan pendekatan pembelajaran.
“Asesmen awal masuk kita gunakan untuk pemetaan siswa terhadap pembagian kelas,” tuturnya.
Pembacaan gambar siswa kelas I yang berlangsung 5–8 Oktober 2026 menjadi salah satu tindak lanjut.
“Pembacaan gambar sebagai tindak lanjut untuk menggali informasi mengenai struktur kepribadian siswa, emosi, mental, kemampuan konsentrasi, gaya belajar, serta hambatan siswa dalam belajar,” jelas Ida.
Kepala Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Ely Rhodlifah, SH., M.Pd., menegaskan pendekatan tersebut tetap berangkat dari karakter pendidikan sekolah.
“Mulai dari siswa kelas bawah kami bangun yang namanya Adab Dulu Baru Ilmu,” katanya.
Menurut Ely, pengembangan kompetensi siswa juga berjalan bersama pembentukan karakter.
“Kami akan terus berkomitmen dalam melaksanakan amanah pendidikan,” ujarnya.
Kurikulum Leader in Me turut menjadi bagian dari pendekatan tersebut. Heru mengatakan program itu diarahkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan siswa.
“Kurikulum Leader in Me menjadi wadah untuk mengakomodasi kemampuan dan potensi siswa, melatih jiwa leadership dan mencetak generasi yang adaptif serta mampu menjawab tantangan di masa depan,” katanya.
Wali murid Riska Nur Rosyidiana merasakan perubahan pada anaknya, Raka Haris Pradipa, siswa kelas I Kutilang.
“Raka semakin mandiri dalam mengerjakan tugas, lebih mampu mengelola emosinya, serta mudah bergaul dengan teman-temannya,” ujarnya.
Ia juga melihat kepercayaan diri Raka semakin berkembang.
Bagi Heru, orientasi pendidikan tersebut pada akhirnya bukan tentang mengikuti nama atau metode tertentu.
“Metode boleh dari mana saja, tapi tujuannya sama: melahirkan anak yang berani memimpin dirinya sendiri dan karyanya,” tegasnya.
Dengan pembelajaran berbasis inkuiri, pengalaman kontekstual, penguatan life skill, entrepreneurship, student-led conference, dan leadership, Sekolah Kreatif Baratajaya menunjukkan bahwa pembelajaran dengan karakter global dapat tumbuh berdampingan dengan nilai keislaman Muhammadiyah.
Tim Humas Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya
