Berita
Beranda » Blog » Program DASH Bekali Siswa Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya Siap Hadapi Pergaulan Sosial dan Tantangan Era Digital

Program DASH Bekali Siswa Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya Siap Hadapi Pergaulan Sosial dan Tantangan Era Digital

(Sekolahkreatif.com) – Hari terakhir Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan Masa Pengenalan Lingkungan Kelas (MPLK) Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya tidak hanya mengenalkan lingkungan belajar kepada peserta didik. Sekolah juga membekali siswa kelas VI dengan kemampuan menghadapi tantangan yang semakin dekat dengan kehidupan remaja melalui Program Dinamika Arek Suroboyo Hebat (DASH), Rabu pagi (15/06/2026).

Program yang digagas Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) tersebut dirancang sebagai upaya preventif untuk memperkuat ketahanan anak. Pelaksanaannya melibatkan sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Negeri Surabaya (UNESA), yang bekerja sama memberikan edukasi kepada siswa sekolah dasar dan menengah pertama.

Berbeda dengan kegiatan MPLS yang identik dengan pengenalan tata tertib sekolah, DASH mengajak peserta didik mengenali berbagai persoalan nyata yang kini mengiringi tumbuh kembang anak. Mulai dari perundungan (bullying), perlindungan anak di ruang digital atau Online Child Sexual Exploitation and Abuse (OCSEA), bahaya penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (Napza), hingga dampak media sosial terhadap perkembangan psikologis remaja.

Di SD Muhammadiyah 16 Surabaya, materi disampaikan Arini Fahma Qonnati dari Plato Foundation bersama tim DP3A-PPKB dan UNESA. Alih-alih memberikan ceramah satu arah, Arini mengajak siswa berdialog mengenai pengalaman yang kerap mereka temui, baik di lingkungan sekolah maupun di dunia digital yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kepala Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Elly Rodlifah, S.H., M.Pd., mengatakan pembekalan tersebut merupakan bagian dari penguatan pendidikan karakter yang selama ini menjadi perhatian sekolah. Menurut dia, siswa kelas VI berada pada fase penting menjelang memasuki masa remaja sehingga membutuhkan bekal pengetahuan sekaligus keterampilan sosial.

“Jadikan program ini menjadi ilmu yang bermanfaat sehingga berguna bagi kalian,” kata Elly saat membuka kegiatan.

Ia berharap wawasan yang diperoleh siswa tidak berhenti sebagai pengetahuan di dalam kelas, melainkan mampu diwujudkan dalam sikap sehari-hari, baik di sekolah, keluarga, maupun lingkungan pergaulan.

Dalam paparannya, Arini mengawali diskusi dengan pertanyaan sederhana yang langsung mengundang perhatian peserta.

“Boleh tidak marah, emosi, atau merasa kesal?” tanyanya.

Menurut Arini, setiap orang berhak merasakan berbagai emosi. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang memahami penyebab emosinya dan mampu mengelolanya dengan cara yang sehat.

“Boleh merasa kesal, marah, dan emosi, asalkan tahu alasannya dan mampu memposisikan diri. Cobalah untuk lebih rileks dan tenang. Validasi diri atas semua perasaan yang kalian rasakan. Insyaallah itu akan lebih membantu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kemampuan mengenali emosi menjadi salah satu modal penting agar anak tidak mudah menjadi pelaku maupun korban kekerasan. Anak yang mampu memahami dirinya cenderung lebih mudah mencari solusi ketika menghadapi persoalan.

Arini juga menyoroti penyebab utama terjadinya perundungan di lingkungan sekolah. “Relasi kuasa menjadi penyebab utama terjadinya bullying,” ujarnya.

Menurut dia, perundungan muncul ketika seseorang merasa memiliki posisi, kekuatan, atau pengaruh yang lebih besar dibandingkan orang lain sehingga menggunakan kelebihan tersebut untuk merendahkan, mengintimidasi, atau menyakiti korban.

Untuk membantu siswa memahami situasi tersebut, fasilitator mengajak peserta mengikuti simulasi dan permainan peran. Dalam sesi ini, siswa memeragakan berbagai bentuk perundungan yang mungkin terjadi di sekolah, kemudian mendiskusikan langkah-langkah yang tepat untuk menghentikan tindakan tersebut. Suasana diskusi berlangsung aktif. Sejumlah siswa mengajukan pertanyaan dan berbagi pengalaman mengenai interaksi dengan teman sebaya.

Bagi Azka Al Farzan Arya Krisdianto, siswa kelas VI Ahmad Badawi, kegiatan tersebut memberikan pemahaman baru tentang pentingnya keberanian melindungi diri. “Harus berani berkata tidak dan segera menyampaikan kepada guru atau orang yang lebih tua,” katanya.

Pendapat serupa disampaikan Sholahuddin Maliki Shinohara Wardhana, siswa kelas VI Mas Mansur yang akrab disapa Shin. Ia menilai materi yang disampaikan relevan dengan kehidupan siswa seusianya. “Kegiatan ini sangat bermanfaat sebagai bekal agar saya lebih siap dan lebih mandiri menghadapi masa depan,” ujarnya.

Koordinator Kelas VI, Riza Fitriyah, S.Pd., berharap materi yang diterima siswa dapat menjadi bekal jangka panjang, terutama dalam membangun karakter, keberanian mengambil sikap, serta kemampuan melindungi diri dari berbagai bentuk kekerasan maupun penyalahgunaan media digital. “Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi siswa-siswi kami di jenjang kelas VI sehingga memberikan wawasan dan ilmu positif sebagai bekal mereka ke depan,” kata Riza.

Melalui Program DASH, Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya menunjukkan bahwa masa pengenalan sekolah bukan sekadar agenda orientasi bagi peserta didik. Lebih dari itu, sekolah berupaya menghadirkan ruang belajar yang membekali siswa dengan kecakapan hidup, kemampuan mengelola emosi, keberanian menolak perundungan, serta kesadaran untuk menjadi pengguna media digital yang bertanggung jawab. Bekal tersebut menjadi fondasi penting bagi siswa yang tengah memasuki fase transisi menuju masa remaja. (Agus Mulyadi)

Artikel Terkait

Bagikan